Berteman dengan Equalizer

image

Pada tahun 2008 lalu, saya pernah bertugas sebagai panitia perpisahan di sekolah. Peralatan datang pada H-1 malam dan saat itu juga diadakan check sound. Saya melihat dan ikut membantu Mas Gepeng, nama panggilan praktisi sound kami, untuk menyetel sound system lengkap. Ada pula Pak Herlan, pemilik studio beserta alat-alat musik yang kami sewa.

Mereka berkoordinasi di depan panggung untuk mendapatkan kualitas sound terbaik. “Naikkan low-nya. High-nya terlalu banyak. Cukup, sudah empuk,” sahut mereka berkali-kali sambil mendengarkan output dari alat musik dengan penuh perasaan.

Teman-teman di panggung bertugas membunyikan masing-masing alat musik serta memeriksa setelan control speaker. Saya membantu menabuh drum. Toms dan snare drum saya tabuh berkali-kali, bersamaan dengan para professional itu menyetel kualitas output. Di samping saya, berdiri seorang kru yang sesekali menyetel kencang-kendurnya membran drum, tentunya sesuai perintah praktisi.

Ketika setelan untuk alat-alat musik dirasa cukup, kami check sound membawakan satu dua lagu dengan formasi band lengkap. Gunanya untuk cek akhir setelan sound serta mengukur keselarasan antarinstrumen. Percayalah, waktu itu saya senang sekali berada di sekolahan sampai tengah malam untuk melakukan hal-hal baru yang mengasyikkan tersebut.

Saat acara diselenggarakan di keesokan harinya, kami rasa hasilnya cukup memuaskan. Hasil pekerjaan menyetel sound seperti itu—apakah memuaskan atau tidak—tergantung dari pengalaman sang praktisi. Banyak kita jumpai acara dengan setelan sound tidak memuaskan, namun tidak sedikit juga yang memuaskan.

Bagi praktisi sound, disamping kepekaan perasaan dan selera, mereka harus mengerti ilmunya. Banyak hal yang harus diatur, tidak hanya equalizer. Bahkan equalizer mereka pun berbeda dengan yang terdapat di perangkat audio sederhana, yang biasa dipakai orang pada umumnya.

Sedangkan sebagai individu dan bukan praktisi sound, saya lebih bebas. Tidak perlu memahami ilmu mengatur equalizer—walaupun jika paham ilmunya tentu lebih bagus. Cukup mengedepankan kenyamanan di telinga sendiri. Kalaupun perlu repot, itu hanya untuk menyesuaikan setelan equalizer dengan perangkat output saja. Headset dan speaker sub woofer tentu beda pengaturannya. Tapi tetap intinya hanya saya dengarkan sendiri, bukan di untuk didengarkan banyak orang.

Sialnya, ketika ada praktisi sound yang hasil pekerjaannya membuat orang lain terganggu. Misal, acara nikahan di suatu kampung. Sering saya merasa tidak nyaman dengan musiknya. Bukan soal aliran atau musik yang buruk, melainkan pusing karena bass atau frekuensi low-nya terlalu tinggi. Entah sengaja atau tidak—mungkin agar banyak orang tahu bahwa di arah sumber suara sedang ada hajatan—tapi yang demikian ini cukup mengganggu.

Atau, barangkali ada faktor lain penyebab ketidaknyamanan ini? Misal kualitas speaker. Atau ada penjelasan lain yang belum saya tahu? Mungkin saja.

Masalah lain yang muncul sehari-hari dan perlu kita selesaikan dengan mengatur equalizer adalah kualitas suara yang berbeda-beda dari sebuah audio. Misal, berkurangnya output bass dan treble pada lagu dari kaset tape yang sudah berumur. Lagu-lagu bajakan dalam format mp3 juga sering kacau. Beda lagu, beda pula kualitas suaranya.

Dari contoh masalah di atas, equalizer dapat membantu. Walaupun mungkin di beberapa contoh kasus karena terlalu buruknya audio, equalizer pun tidak banyak berpengaruh. Namun setidaknya ini bisa membuat lebih baik.

Jadi, jelas lebih baik kalau kita paham mengatur equalizer. Minimal, untuk keperluan pribadi. Tidak perlu sekolah sebagai sound engineer, kecuali kalau itu memang profesi kita. Bahkan teknologi sudah memudahkan kita dengan menyediakan preset EQ atau setelan equalizer yang umumnya sudah disediakan di perangkat audio. Kita bisa coba preset satu per satu kemudian sesuaikan dengan genre musik atau selera.

Biasanya, saya lebih memilih custom atau mengatur sendiri. Cukup gunakan perasaan saja untuk menemukan setelan yang pas sesuai perangkat output dan kondisi saat itu. Kadang perangkat output juga menyediakan panel setelan sendiri, misal speaker active. Cukup menguntungkan pengguna karena tersedia pengaturan pada kedua sisi perangkat.

Manfaatnya kita akan semakin mendekati kepuasan mendengarkan musik. Kepuasan berarti sesuai selera. Kita juga dapat mengaturnya agar tidak ada orang yang terganggu oleh kesenangan kita.

Ketika kita menikmati musik atau bermain game PC dengan speaker sub woofer di kos-kosan, setidaknya teman kos tidak terganggu dengan bass atau frekuensi low yang berlebihan. Kita dapat menikmati suara yang enak tanpa membuat orang lain terganggu.

Ke-peka-an berperan ganda di sini. Mengasah kepekaan telinga untuk mengatur equalizer, serta peka terhadap kenyamanan lingkungan sekitar. Mari belajar. 🙂

Advertisements

Antara Menonton, Menikmati, atau Menghujat

IMG_8643

Ketiganya bisa kita pilih saat menghadiri pertunjukan. Apapun pertunjukannya, baik musik, tari, kolosal, dan sebagainya. Karena sejatinya kita menonton adalah untuk menikmati.

Saya merasa kehadiran saya di depan panggung tidak melulu sebagai penikmat. Adakalanya penampilan tidak terlalu menarik, maka saya sebagai penonton. Ketika saatnya tertarik, level naik menjadi penikmat. Karena tidak setiap saat kita bisa menikmati apa yang ada di depan mata, kan? Dan ketika hal buruk atau hal tidak memuaskan terjadi, level bisa saja berubah menjadi penghujat.

Tentu ini bukan kondisi yang mutlak bagi tiap orang. Kita bebas bersikap. Namun kita bisa menyebut ketiga peran tersebut adalah hal umum yang terdapat pada hadirin pertunjukan. Selain ketiga peran tersebut, masih banyak lagi; misal penampil, perekam, pencatat, pengatur, penjual, dan sebagainya.

Menurut saya, sebagai hadirin paling ideal adalah menjadi penikmat. Saat menjadi penonton, berusahalah untuk menikmati—walaupun adakalanya sulit sehingga stuck menjadi penonton saja. Ketika pertunjukan mengecewakan, berusahalah untuk sedikit saja dalam menghujat atau mengeluh. Kecewa tentu hal yang wajar. Namun jangan sampai proses menikmati pertunjukan jadi berkurang.

Jadi sebelum datang ke pertunjukan, berdoalah terlebih dahulu agar tidak dikecewakan oleh penyelenggara acara. Sehingga kita bisa lebih banyak menikmati pertunjukan daripada menghujat atau memberi komentar negatif. Juga, semoga penyelenggara yang mendapat rapor merah dalam mengerjakan sebuah pertunjukan akan berbenah untuk pekerjaan berikutnya.

Selamat menikmati, apapun. Siapapun.

Lepot dan Jumanis Sedang Libur Jualan Gethuk

Lepot dan Jumanis

Teater Gadjah Mada mempersembahkan pentas bertajuk Lepot dan Jumanis. Acara digelar Sabtu (4 April 2015) malam, di Taman Budaya Yogyakarta.

Teater Gadjah Mada berharap Lepot & Jumanis dapat memberikan sudut pandang baru dalam menanggapi berbagai isu politik, sosial dan ekonomi dari perspektif rakyat kecil.”

Cuplikan sinopsis itu aku baca berulang-ulang sebelum pentas dimulai. Sinopsis yang cukup memberitahu penonton, bahwa menyaksikan teater ini tidaklah rugi.

Pak Lepot dan Ibu Jumanis adalah suami istri yang tinggal di desa. Kehidupan mereka sederhana. Pak Lepot mencangkul, Ibu Jumanis berjualan gethuk. Makanan bikinan Jumanis yang terbuat dari singkong ini cukup terkenal. Pelanggannya banyak, mulai dari masyarakat kecil hingga pejabat.

Teater Gadjah Mada memotret isu sosial dan politik dalam kehidupan sehari-hari, kemudian mengemasnya ke dalam pertunjukan. Potret tersebut diolah, kemudian disajikan dalam bentuk interaksi antara Lepot dan Jumanis dengan pelanggan gethuknya. Tentu dibumbui dengan lelucon jenaka, agar enak dinikmati.

Suatu hari mereka kesulitan memperoleh singkong. Produksi gethuk menjadi terhambat. Jumanis libur berjualan. Karena tidak sabar menantikan gethuk Jumanis, beberapa pelanggan mendatanginya. Saat itulah potret kehidupan masyarakat divisualkan.

Potret-potret ditampilkan dengan baik, mengiringi masalah utama—isu sosial juga—yang menyebabkan Jumanis libur berjualan. Bahan baku gethuk sulit didapatkan. Singkong menjadi langka akibat banyak lahan dialihfungsikan!

Kesulitan tersebut ditekankan di bagian akhir pementasan. Mereka berikrar tidak akan menjual ladang singkong untuk siapapun dan kepentingan apapun. Ladang hanya untuk mata pencaharian mereka sendiri. Ladang singkong tidak akan dijual.

Memahami masalah utama dalam pentas ini akan mengusik kita untuk melihat masalah lain yang serupa. Kalau selo, aku ingin baca-baca artikel konflik agraria yang sedang terjadi di beberapa tempat di Indonesia. Mungkin ada Pak Lepot dan Ibu Jumanis lain di dalam konflik itu. Mungkin juga tidak hanya soal singkong, tapi padi dan lahan tanaman lain yang menjadi mata pencaharian masyarakat setempat. Mereka mempertahankan lahan, dan tidak sedikit yang berjuang dengan perlawanan.

Pentas Lepot dan Jumanis dibuka secara gratis. Kalau kalian tadi malam nggak sempat nonton di Taman Budaya Yogyakarta, datanglah ke kota Kudus, Purwokerto, atau Bandung. Teater Gadjah Mada menjadwalkan pentas ini di 4 kota. Cek jadwalnya.

Di akhir pentas, penonton memberikan tepuk tangan meriah. Teater Gadjah Mada telah mempersembahkan Lepot dan Jumanis dengan baik sehingga menarik untuk dinikmati. Dari pentas yang berlangsung sekitar 90 menit ini, aku menemui cuplikan sinopsis yang bagus dan aku sepakati;

tidak berbelit-belit menggunakan metafora rumit sehingga mampu membangun kesadaran masyarakat melalui media seni pertunjukan. Sebab kesadaran dan kepekaan berpikir tidak muncul begitu saja. Dan melalui sebuah mini panggung kehidupan, disitulah kesadaran dibangkitkan.”

Teater Lamunan

image

Panggung teater memberi ruang pada penonton untuk melamun. Pergi sebentar dengan lamunan, keluar dari pementasan. Kita nggak harus selalu fokus pada pentas.

Musik pengiring sukses mempermainkan emosi, mengantar kita pergi sebentar. Namun mereka juga akan mengalunkan musik untuk menarik kita kembali ke pentas, pada saatnya.

Aku mengalaminya. Ke mana pergiku? Rupanya irama musik pengiring meluncurkan roket ke masa-masa pemborosan shutter count kameraku, sekitar 2 tahun silam.

Ada suatu masa dimana aku senang belajar memotret di bidang seni budaya. Beberapa pentas pernah aku datangi. Tapi nggak seluruhnya aku dokumentasikan dengan baik.
Ada foto yang jadi cover dan konten buletin, hingga kado istimewa. Tapi ada juga yang jadi cacian saat evaluasi, “eftad-nya manaa?”. Ha ha.

Itu masih lumayan, daripada nggak berguna sama sekali, padahal motretnya udah pake kartu sakti. Tapi akhirnya cuma nyampah di hard disk gegara malas untuk mengolah lebih lanjut. Kekurangan bahan dan data jadi salah satu penyebab.

Duh Gusti, ampunilah hambamu yang dulu merasa keren ini.

Setelah beberapa saat aku melamun kesana kemari, musik pengiring kembali mengeras. Biola nyaring menyerukan nada-nada nyaring, diperhalus dengan seruling yang meniupkan nada-nada mirip irama khas Sunda. Panggung telah memintaku untuk kembali fokus padanya, pada adegan berlatar rumah sederhana di sebuah desa.

Lamunan selesai. Aku kembali duduk di kursi penonton concert hall Taman Budaya Yogyakarta, menonton teater berjudul “Matahari Setengah Mati”. Digelar oleh Teater Manggar dalam rangka study pentas angkatan 15.

Kali ini aku datang bukan untuk belajar motret. Tapi sayang juga kalau pulang nggak bawa oleh-oleh. Jadi, boleh lah satu dua jepret aja dengan kamera ponsel.

Oleh-oleh ini bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk aku sendiri. Barangkali, keinginan belajar muncul lagi. Barangkali, aku jadi rindu ditanya, “mana eftad-nya?”
😀